Senin, 30 April 2012

Konsep Manusia Paripurna


BAB I
PRNDAHULUAN
Manusia adalah salah satu makhluk Allah yang sempurna, baik dari aspek jasmaniyah ataupun rohaniyah. karena kesempurnaan itulah, maka untuk dapat memahami, mengenal secara dalam dan totalitas dibutuhkan melalui studi yang dalam dan hati- hati tentang manusia melalui Al-Qur’an yang sudah barang tentu sebagai sumber ilmu pengetahuan yang absolute kebenaranya.[1] Banyak sekali dalil keagamaan yang  dapat dikemukakan untuk membuktikanya, di antaranya adalah, Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik- baiknya (QS. At- Tin [95]: 4)
Menurut M. Quraish Syihab dalam bukunya ‘’ 1001 Soal keislaman yang patut anda ketahui ‘’, hemat beliau mengatakan, kita tidak dapat mengklaim atas nama Al-Qur’an bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna (At-Tin ayat 4), karena ada juga ayat lain yang secara tegas menyatakan, Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan sebaik- baik (sesempurna- sempurna) penciptaan dan Dia memulai ciptaan manusia dari tanah (QS As-Sajdah [32]: 7). Jadi menurut M. Quraish Syihab, kesempurnaan manusia dan makhluk lain ciptaan Allah harus dilihat dari segi fungsi dan tujuan penciptaanya.[2] Dari sinilah jika kita cermati bersama maka akan lahir diskusi berkaitan dengan:
1.      Siapa dan bagaimanakah manusia manurut Al-Qur’an?
2.      Bagaimana kesempurnaan manusia dibandingkan dengan makhluk lain?
3.      Apa fungsi dan tujuan manusia diciptakan ?



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Manusia
Manusia adalah makhluk Allah yang sangat unik dan penuh misteri, oleh karena itu manusia tidak habis- habisnya menjadi objek kajian dan penelitian. Bermacam- macam definisi dari berbagai ahli mengenai manusia, ada yang menyebutnya:
·  homo sapiens (makhluk yang mempunyai akal dan budi)
·  Homo luquen (makhluk yang pandai menciptakan bahasa)
·  Homo faber (makhluk yang pandai menciptakan alat perkakas)
·  Zoon politicon (makhluk yang bermasyarakat)
·  Hayawân nâtiq (binatang yang berfikir) [3]
Dan masih bayak definisi- definisi lain yang menjelaskan manusi dalam presfekrif yang berbeda- beda. lalu siapa dan bagaimanakah manusia menurut Al-Qur’an?
B.     Manusia Dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an sendiri menyebut manusia dengan menggunakan istilah yang berbeda- beda, yaitu:
                           1.            Basyar (disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 35 kali).
                           2.            Al- Ins (disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 18 kali)
                           3.            Al- Insan (disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 65 kali)
                           4.            An-nâs (disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 240 kali)
                           5.            Bani Adam (disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 7 kali)
                           6.            Dzuriyah Adaam (disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 1 kali)[4]

1)      Manusia Sebagai Basyar ( Biologis)
Basyar adalah makhluk yang sekedar ada (being).  Artinya,  manusia dalam kategori basyar adalah makhluk statis, tidak mengalami perubahan, berkaki dua yang berjalan tegak di muka bumi. Oleh karenanya, manusia memiliki definisi yang sama sepanjang zaman, terlepas dari ruang dan waktunya.
Kata basyar digunakan untuk menunjuk kepada manusia sebagai makhluk biologis yang memerlukan makanan, minuman, udara, sexs dan melakukan aktifitas fisik sama seperti makhluk-makhluk hidup lainya. Singkatnya, basyar adalah manusia dalam arti fisis-biologis.

2)      Manusia Sebagai Insan (Becoming)
Insan berarti manusia dalam arti yang sebenarnya. Insan tidak menunjuk pada manusia biologis. Insan lebih terkait dengan kualitas luhur kemanusiaan. Ali Shari’ati menyatakan bahwa,”tidak semua manusia adalah insan, namun mereka mempunyai potensialitas untuk mencapai tingkatan kemanusiaan yang lebih tinggi” (Shari’ati, 1982: 62). Bila basyar bermakna makhluk yang sekedar ada (being), maka insan  berbeda.  Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming). Ia terus-menerus maju menuju ke kesempurnaan. Karakter “menjadi” ini membedakan manusia dengan fenomena lain di alam. 

Insan memiliki tiga sifat pokok, yaitu: 

1.      Kesadaran Diri
 Kesadaran diri merupakan pengalaman  tentang kualitas dan esensi dirinya, dunia dan hubungan antara dirinya dan dunia serta alam. Kesadaran itu membuat manusia bisa mengambil jarak dengan diri dan alam sehingga manusia tertuntun untuk mencipta sesuatu yang bukan alam.

2.       Kemauan Bebas
Kemauan bebas tampak dalam kebebasan memilih. Menurut Shari’ati, insan bebas memilih. Pilihannya bisa saja bertentangan dengan insting naturalnya, masyarakatnya, atau dorongan-dorongan psikologisnya. Kebebasan memungkinkan manusia untuk melakukan evolusi ke tingkat tertinggi kemanusiaannya menerobos sekat-sekat alam, masyarakat, sejarah dan egonya.
3.      Kreativitas atau daya cipta
 Potensi kreatif insan memungkinkannya menjadi makhluk yang mampu mencipta benda, barang dan alat, dari yang paling kecil sampai yang kolosal, karya-karya industri dan seni yang tak disediakan alam. Penciptaan dan pembuatan barang tersebut dilakukan insan karena alam tak menyediakan semua yang dibutuhkannya. (Shari’ati, 1982: 72-73) [5]

3. Manusia Sebagai Al-nas

Kategori al-nas berbeda dengan dua konsep manusia lainya (basyar dan insan). Menurut Shari’ati, kedua istilah terdahulu terkait dengan nilai-nilai moral yang terkandung dalam diri manusia. Sedangkan al-nas tidak berhubungan dengan kualitas kemanusiaan.

Terminologi al-nas digunakan Shari’ati dalam dua pengertian, yaitu:
1.      Al-nas sebagai kutub sosial
Al-nas adalah “wakil-wakil” Allah dan “keluarga”-Nya. (Shari’ati, 1979: 116-117) Dan, posisi penting al-nas ini menempatkannya sebagai “faktor penentu” revolusi sosial.  Al-nas yang sadar akan dirinya serta tanggung jawab sosialnya akan mendorong masyarakat menuju revolusi sosial. 


2.       Kedua, al-nas sebagai massa (mass) atau rakyat (people). 
Shari’ati berpendapat bahwa sinonim yang paling mirip untuk mewakili kata al-nas adalah kata massa.  Menurutnya, dalam terminologi sosiologi, massa terdiri dari segenap rakyat yang merupakan kesatuan tanpa menghiraukan perbedaan kelas ataupun sifat yang terdapat dalam kalangan mereka.  Jadi, bagi Shari’ati, al-nas adalah massa. Massa adalah rakyat itu sendiri, tanpa menunjuk kepada kelas atau bentuk sosial tertentu.[6]

C.    Kesempurnaan Manusia
Kesempurnaan manusia terletak pada terpenuhinya dalam diri makhluk ini sifat- sifat fisik dan pisikis sehingga mampu melaksanakan fungsinya sebagai khalifah dan hamba Allah, sehingga manusia disebut sempurna untuk tujuan ini, bahkan lebih sempurna dari Malaikat. Akan tetapi, Iblis yang diciptakan Allah utuk menggoda manusia adalah makhluk sempurna pula melebihi kesempurnaan manusia dan malaikat dalam bidang menggoda dan merayu.[7]
Manusia menurut Nurcholish Madjid memang merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang mengagumkan dan penuh misteri. Dia tersusun dari perpaduan dua unsur ; segenggam tanah bumi, dan ruh Allah, maka siapa yang hanya mengenal aspek tanahnya dan melalaikan aspek tiupan ruh Allah, maka dia tidak akan mengenal lebih jauh hakikat manusia.[8] Al-Qur’an sendiri juga menyatakan bahwa manusia memang merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah, ada banyak sekali kelebihan yang diberikan oleh Allah swt kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk-makhlukNya yang lain, diantaranya:
         Mempunyai  beberapa ‘perangkat’ yang diberikan Allah kepada manusia yang menjadikannya unggul dan terdepan dari para makhluk lainnya seperti;
-          memiliki daya tubuh yang membuat fisiknya kuat.
-           daya hidup yang membuatnya mampu mengembangkan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan serta mempertahankan diri menghadapi tantangan.
-          daya akal yang membuatnya memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi.
-          daya kalbu yang memungkinkannya bermoral, merasakan keindahan, kelezatan iman, dan kehadiran Allah.[9]
         Manusia ditunjuk dan dipercayai Tuhan sebagai Khalifah (pemimpin) di muka bumi yang tugasnya mengatur dan memimpin.
         Dengan akalnya manusia mampu mengubah apa yang ada di alam ini yang secara alamiah tidak bermanfaat menjadi bermanfaat.
         Manusia memiliki alat berkomunikasi dengan sesamanya yang disebut bahasa, yang memungkinkan mereka dapat saling bertukar informasi demi kesempurnaan hidup bersama.
         Manusia memiliki sarana pengatur kehidupan bersama yang disebut sopan santun atau tata susila, yang memungkinkan terciptanya suasana kehidupan yang tertib dan saling menghargai.
         Manusia memiliki ilmu pengetahuan yang karenanya kehidupan mereka makin berkembang dan makin sempurna.[10]






D.    Fungsi dan Tujuan Manusia diciptakan
Manusia perlu menyadari eksistensi dan tujuan penciptaan dirinya, memahami risalah hidupnya selaku pengemban amanah Allah, melalui arahan dan bimbingan yang berkesinambungan agar kehidupannya menjadi lebih berarti. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya segala sesuatu diciptakan dengan adanya satu tujuan. Dengan tujuan itulah kemudian sesuatu difungsikan dan dengan adanya fungsi itulah maka keberadaan sesuatu menjadi berarti. Demikian juga adanya manusia di bumi ini. Ia pasti diciptakan untuk satu tujuan tertentu. Makalah ini mencoba untuk membahas tujuan penciptaan manusia sebagaimana yang ada di dalam al Qur’an. Dalam pembahasan ini penulis menfokuskan pada dua ayat yang secara eksplisit menunjukkan tujuan Allah swt dalam penciptaan manusia yaitu QS al Dhariyat : 56 dan QS al-Baqarah : 30
 Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

1.       Manusia sebagai hamba Tuhan
Maksud diciptakan Manusia antara lain agar dia mengabdi kepada Tuhanya. Manusia diwajibkan beribadah kepada penciptanya, dalam arti selalu tunduk dan taat kepada perintahnya guna mengesakan dan mengenal-Nya dengan petunjuk yang telah diberikan.Dari segi sasarannya, ibadah dapat diklasifikasikan atas tiga macam, yaitu:
1)      Ibadah person, pelaksanaannya tidak melibatkan orang lain, tetapi dari pihak individu sebagai hamba Allah. Misalnya, amaliah keagamaan yang bersifat ritus seperti sholat, puasa.
2)      Ibadah antarperson, pelaksanaannya bergantung pada pihak bersangkutan tetapi membutuhkan keterlibatan orang lain. Misalnya, pernikahan, jual beli.
3)      Ibadah sosial, kegiatan interaktif antar masing-masing individu dengan pihak lain yang dibarengi dengan kesadaran diri sebagi hamba Allah SWT.

2.       Manusia sebagai Khalifatullah
Penciptaan manusia sebagai makhluk yang tertinggi sesuai dengan maksud dan tujuan terciptanya manusia untuk menjadi khalifah. Secara harfiah khalifah berarti yang mengikuti dari belakang. Jadi, manusia adalah wakil atau pengganti di bumi dengan tugas menjalankan mandate yang diberikan oleh Allah kepadanya, membangun dunia sebaik-baiknya (Q.S. 2:30). Dan sebagai khalifah, manusia akan dimintai pertanggung jawaban atas tugasnya dalam menjalankan mandate Allah (Q.S. 10:14).

Adapun mandat yang dimaksud adalah:
         patuh dan tunduk pada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
         bertanggung jawab atas kenyataan dan kehidupan di dunia sebagai pengemban amanah.
         berbekal diri dengan ilmu pengetahuan, hidayah agama dan kitab suci
         menerjemahkan segala sifat-sifat Allah pada perilaku kehidupan sehari-hari dalam batas kemanusiaannya atau
         melaksanakan sunah-sunah yang diridhainya.
         membentuk masyarakat islam yang ideal yang disebut dengan ummah
         mengembangkan fitrahnya sebagai khalifatullah yang mempunyai komitmen, kesadaran, kemerdekaan, dan kreatifitas.
         membentuk suasana aman, tentram, dan damai di bawah naungan ridha Allah dengan asas; ukhuwah islamiah, silaturrahim, ta'awun, rauf (kasih saying), sabar, tasamuh (toleransi), musawah (persamaan) adil, kreatif, dan dinamis. [11]













BAB III
KESIMPULAN

Manusia adalah salah satu makhluk Allah yang sempurna, baik dari aspek jasmaniyah ataupun rohaniyah. Menurut Nurcholish Madjid, manusia tersusun dari perpaduan dua unsur ; segenggam tanah bumi, dan ruh Allah, maka siapa yang hanya mengenal aspek tanahnya dan melalaikan aspek tiupan ruh Allah, maka dia tidak akan mengenal lebih jauh hakikat manusia, maka untuk dapat memahami, mengenal secara dalam dan totalitas dibutuhkan melalui studi yang dalam dan hati- hati tentang manusia melalui Al-Qur’an yang sudah barang tentu sebagai sumber ilmu pengetahuan yang absolute kebenaranya. Al-Qur’an menyebutkan manusia dengan berbagai intilah dan definisi, Al-Qur’an sendiri juga menyatakan bahwa manusia memang merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah, ada banyak sekali kelebihan yang diberikan oleh Allah swt kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk-makhlukNya yang lain, menurut M. Quraish Syihab, manusia bisa dikatakan paripurna bila dilihat dari peran dan tujuanya diciptakan, jadi manusia bisa dikatakan paripurna apabila dia telah mampu menjalankan peranya dengan baik sebagai Kholifah, dan bertanggung jawab atas mandate yang diberikan Allah atas kehambaanya terhadap tuhan melalui jalan beribadah dan bermasyarakat.











DAFTAR PUSTAKA

Djoko Widagdho, Ilmu Budaya Dasar, PT. Bumi Aksara, Jakarta, 1999
Hamdani Bakran Adz-Dzaky,  Konseling dan Psikoterapi Islam, Gunung Agung, Jakarta,  2001
M. Quraish Shihab, Menjawab 1001 Soal keislaman yang Patut Anda Ketahui, Lentera Hati, Jakarta 2008
M. Quraish Shihab, Lentera Hati, Mizan, Bandung 1997
Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, Paramadina, Jakarta, 2000










[1] Hamdani Bakran Adz-Dzaky. Konseling dan Psikoterapi Islam, hlm 13
[2] M. Quraish Syihab ‘’ 1001 Soal keislaman yang patut anda ketahui ‘’, hlm 360
[3] Yunahar Ilyas. Tipologi Manusia Menurut Al-Qur’an. Hlm 1
[4] Ibid hlm. 1-2
[5] Shari’ati, Man and Islam: 64-66
[7] M. Quraish Syihab ‘’ 1001 Soal keislaman yang patut anda ketahui ‘’, hlm 361
[8] Nurcholish Madjid, “Islam Doktrin dan Peradaban”, hlm 430
[9] M. Quraish Shihab,” Lentera Hati” , hlm 132
[10] Djoko Widagdho dkk, ‘’ Ilmu Budaya Dasar’’ hlm 32-33

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar